Pimpinan perusahaan tidak hanya berkepentingan menetapkan modal kerja optimal dalam aktiva lancar, namun juga berkepentingan menentukan sumber-sumber pembiayaannya dan bagaimana menenetukan proporsi hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang yang akan dipergunakan untuk mendanai modal kerja tersebut. Keputusan ini menyangkut trade off antara profitabilitas dan resiko. Mengurangi tingkat investasi aktiva lancar, namun masih mampu mendukung penjualan, akan meingkatkan pengembalian perusahaan pada total aktiva. Dalam kondisi biaya eksplisit dari pembiayaan jangka pendek lebih sedikit daripada untuk jangka menengah dan jangka panjang, maka akan semakin besar proporsi hutang jangka pendek terhadap total hutang dan semakin tinggi kemampuan memperoleh laba perusahaan.
Walaupun bunga untuk jangka pendek terkadang melebihi tingkat bunga untuk jangka panjang, tetapi secara umum lebih rendah. Bahkan jika tingkat bunga jangka pendek lebih tinggi, kondisi ini hanya bersifat sementara. Untuk jangka waktu yang diperpanjang, kita berharap untuk membayar lebih pada biaya bunga dengan hutang jangka panjang dari pada pinjaman jangka pendek yang secara terus-menerus diperbaharui pada waktu jatuh tempo. Lagi pula, penggunaan hutang jangka pendek memungkinkan untuk menghasilkan profit yang lebih besar karena hutang akan dilunasi selama periode dimana hutang tersebut tidak dibutuhkan.
Asumsi kemampuan memperoleh laba ini menyarankan untuk menjaga tingkat aktiva lancar yang relatif rendah dan proporsi yang tinggi antara kewajiban lancar dari keseluruhan kewajiban. Strategi ini akan menghasilkan tingkat modal kerja bersih yang rendah, bahkan negatif. Untuk mengimbangi kemampuan memperoleh laba dari strategi ini, adalah tingkat risiko yang semakin tinggi. Risiko dalam hal ini sebagai konsekuensi karena perusahaan tidak mempertahankan aktiva lancar yang cukup untuk :
- Melunasi kewajiban kas jika jatuh tempo
- Mendukung tingkat penjualan yang sesuai dengan (misalkan kehabisan persediaan).
Untuk tiap tingkat output, perusahaan bisa memiliki jumlah aktiva lancar dalam tingkat yang berbeda. Diasumsikan, pada awalnya, ada tiga alternative kebijakan aktiva lancar yang berbeda. Hubungan antara output dan tingkat aktiva lancar untuk alternative ini digambarkan pada gambar di bawah ini :

Tingkat Aktiva Lancar untuk Tiga Alternatif Kebijakan Modal Kerja
Tingkat Aktiva Lancar untuk Tiga Alternatif Kebijakan Modal Kerja
Dari gambar dapat dilihat, semakin besar output semakin besar kebutuhan investasi pada aktiva lancar untuk mendukung output tadi (dari penjualan). Hubungan ini tidak linear, aktiva lancar akan bertambah pada tingkat kenaikan output yang menurun. Hubungan ini didasarkan pada pendapat yang mengatakan bahwa diperlukan investasi pada tingkat aktiva lancar pada proporsi yang lebih besar jika hanya beberapa unit output yang diproduksi dibandingkan dengan yang akan diproduksi kemudian, yaitu pada saat perusahaan bida menggunakan aktiva lancarnya lebih efisien.
Jika kita menyamakan likuiditas dengan sifat konservatif, kebijakan A merupakan yang paling konservatif dari tiga alternative yang ada. Pada semua tingkat output, kebijakan A memberikan aktiva lancar yang lebih besar dibandingkan kebijakan lainnya. Semakin besar tingkat aktiva lancar, semakin besar pula tingkat likuiditas perusahaan. Kebijakan A sepertinya mempersiapkan perusahaan untuk kebutuhan aktiva lancar yang sewaktu-waktu terjadi, bisa disamakan dengan menggunakan sabuk pengaman. Kebijakan C merupakan yang paling tidak likuid atau agresif.
Kebijakan yang relatif sekedarnya ini memiliki tingkat jumlah kas, sekuritas, piutang dan persediaan yang relatif rendah. Harus diingat untuk tiap tingkat output diperlukan tingkat minimal aktiva lancar. Selalu ada batasan seberapa jauh perusahaan dapat bergantung dan digantungkan. Sekarang ini dapat diringkaskan peringkat dari alternatif lebijakan modal kerja dengan memperhatikan likuiditas, sebagai berikut:
Perubahan dari kebijakan A ke C akan mengakibatkan efek lain, selain peningkatan kemampuan memperoleh laba. Kas yang berkurang akan mengurangi kemampuan perusahaan untuk memenuhi/melunasi kewajiban-kewajiban keuangannya, jika jatuh tempo. Piutang yang berkurang, dengan menjalankan persyaratan kredit yang lebih ketat dan kebijakan yang lebih mantap. Oleh karena itu, kebijakanmodal kerja yang lebih agresif akan mengakibatkan naiknya tingkat resiko. Secara jelas, kebijakan C merupakan kebijakan modal kerja yang paling beresiko. Selain itu juga merupakan kebijakan menekankan kemampuan memperoleh laba dibandingkan likuiditas.
Kesimpulannya kebijakan modal kerja telah menggambarkan dua prinsip dasar keuangan, yaitu :
Kesimpulannya kebijakan modal kerja telah menggambarkan dua prinsip dasar keuangan, yaitu :
- Kemampuan memperoleh laba berbanding terbalik dengan likuiditas. Perhatikan dari ketiga alternative kebijakan modal kerja ayang ada, peringkat likuiditas berlawanan dengan peringkat kemampuan memperoleh laba. Likuiditas yang meningkat merupakan biaya dari kemampuan memperoleh laba yang menurun.
- Kemampuan memperoleh laba bergerak searah dengan resiko. Untuk memperoleh tingkat kemampuan memperoleh laba yang tinggi, kita harus berani mengambil resiko yang lebih besar. Perhatikan bagaimana peringkat kemampuan memperoleh laba dan resiko untuk alternative kebijakan modal kerja selalu sama. Dapat dikatakan, resiko dan pengembalian bergerak searah.
Seperti telah dikemukakan bahwa modal kerja dibagi dalam dua kelompok yaitu modal kerja permanent (permanent working capital) dan modal kerja variable (variable working capital), maka untuk pembiayaan modal kerja tersebut manajer keuangan harus menganalisa dan menentukan komposisi sumber dana yang paling menguntungkan. Ada tiga pendekatan atau alternative pembiayaan kebutuhan dana dalam kaitannya dengan aktiva lancar yaitu : (1) Maturity Matching, or “self-liquidity” approach. (2) Aggressive Approach, dan (3) Conservative Approach.
Ketiga pendekatan dapat digunakan dengan berbagai pertimbangan dan masing-masing pendekatan tersebut akan dibahas sebagai berikut :
- Maturity Matching approach adalah suatu pendekatan kebutuhan dana dengan mempertimbangkan bahwa modal kerja variabel sebaiknya dibelanjai oleh sumber dana jangka pendek. Pembiayaan dengan sumber dana jangka pendek untuk modal kerja variabel lebih menguntungkan karena bila sudah tidak dibutuhkan lagi dapat segera dikembalikan. Sedangkan modal kerja yang bersifat permanent dapat dibelanjai dengan sumber pembiayaan atau dana jangka panjang baik dari pinjaman jangka panjang maupun dari modal sendiri.
- Aggressive Approach adalah pendekatan dalam pemenuhan kebutuhan dana dengan menggunakan sumber pembiayaan jangka pendek yang lebih besar dibandingkan dengan sumber dana jangka panjang untuk membiayai modal kerja, baik nodal kerja yang bersifat permanent maupun modal kerja yang bersifat variabel. Dengan demikian proporsi hutang jangka pendek lebih besar dalam membiayai modal kerja dibandingkan dengan menggunakan pendekatan lainnya. Di dalam pendekatan aggressive ini, keuntungan yang diharapkan cukup besar, karena umumnya ada beberapa keuntungan dari penggunaan hutang jangka pendek dibandingkan dengan penggunaan hutang jangka panjang, misalnya kecepatan, biaya yang rendah, fleksibilitaas, dan sebagainya. Akan tetapi, konsekuensinya adalah bahwa dengan keuntungan yang diharapkan besar itu selalu diikuti dengan resiko yang besar pula.
- Conservative Approach adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk membiayai modal kerja permanent dan sebagian modal kerja variabel dengan sumber pembiayaan dengan sumber pembiayaan atau dana jangka panjang. Dengan demikian proporsi pembiayaan dengan sumber dana jangka pendek untuk membiayai modal kerja lebih kecil jika dibandingkan dengan menggunakan maturity matching approach ataupun aggressive approach. Keputusan ini juga dimaksudkan untuk lebih memperkecil resiko namum juga akan memperkecil keuntungan yang diharapkan akan tersedia bagi pemegang saham karena biaya hutang jangka panjang pada umumnya lebih besar dibandingkan dengan hutang jangka pendek..
Biaya hutang jangka panjang lebih besar dari hutang jangka pendek karena resiko dalam jangka panjang itu lebih besar dibandingkan dengan resiko dalam jangka pendek demikian pula pada waktu-waktu tertentu modal kerja tersebut mungkin sudah tidak dibutuhkan lagi namun belum dapat dikembalikan karena belum jatuh tempo, sehingga perusahaan akan membayar biaya beban bunga atas hutang jangka penjang tersebut yang sebetulnya tidak diperlukan.
Ada tiga strategi agresif, strategi konservatif dan trade off financing strategy untuk menentukan kombinasi yang memadai dari keuangan jangka pendek dan keuangan jangka panjang. Ketiga strategi tersebut akan dijelaskan dibawah ini :
- Strategi keuangan agresif (aggressive financing strategy), strategi dimana perusahaan membiayai kebutuhan musiman dan sebagian dari kebutuhan tetapnya dengan dana jangka pendek dan sisanya merupakan kebutuhan permanent dengan dana jangka panjang.
- Strategi keuangan konservatif (conservative financing strategy), strategi dimana perusahaan membiayai semua proyek yang memerlukan dana dengan menggunakan dana jangka panjang, sedangkan pengeluaran yang darurat dan tidak diharapkan menggunakan dana jangka pendek. Strategi konservatif dibandingkan dengan srategi agresif, strategi konservatif mengharuskan perusahaan untuk membayar bunga atas dana-dana yang tidak diperlukan. Biaya strategi agresif yang lebih rendah membuat lebih menguntungkan daripada strategi konservatif. Bagaimanapun, strategi agresif memiliki resiko lebih tinggi.
- Trade off financing strategy, strategi untuk menentukan financing mix yang banyak digunakan selain strategi agresif dan strategi konservatif adalah menggunakan Trade off financing strategy, yaitu strategi kompromi antara strategi agresif dan strategi konservatif.
Konverter Rupiah






Tidak ada komentar:
Poskan Komentar