Dunia usaha dewasa ini menghadapi tingkat persaingan yang semakin tinggi. Perusahaan-perusahaan juga dituntut memberikan kepuasan yang tinggi bagi para konsumennya, baik dari segi kualitas produk yang dihasilkan, maupun kepuasan yang berhubungan dengan pelayanan publik. Masing-masing perusahaan survive di dunia usahanya atau bila mungkin dapat menjadi pemimpin pasar di bidangnya. Di masa krisis ini, segala daya upaya berupa kebijakan-kebijakan digunakan oleh perusahaan agar dapat bertahan. Kebijakan itu bisa berupa mem-PHK-kan karyawan, efisiensi pengeluaran lain, atau bahkan merger dengan perusahaan lain. Apalagi di era pasar Bebas nanti, di mana pesaing bukan datang dari dalam negeri saja, tetapi juga dari Manca Negara. Pemerintah akan membuka pasar nasional selebar-lebarnya, tanpa proteksi yang banyak melindungi pengusaha lokal saat ini. Diperkirakan akan semakin banyak perusahaan-perusahaan asing masuk ke Indonesia, mendapat fasilitas layaknya perusahaan lokal, dan tak acla perlindungan dari pemerintah lagi. Untuk itu, perusahaan harus memperhatikan banyak hal. Satu di antaranya adalah masalah sumber daya manusia.
Begitu pcntingnya sumber daya manusia, membuat Paton, sebagaimana dikutip oleh cashin dan Polimeni (1991 : 827) mengemukakan bahwa “ln the business enterprise, a well organized and loyal personnel may be a more important asset than a stock merchandisc."
Tentu saja sumber daya manusia yang dimiliki harus yang terampil, sesuai dengan kebutuhan dan handal menghadapi segala hambatan perusahaan. Hal ini harus perusahaan sadari, mengingat mulai banyaknya pembajakan karyawan professional yang telah “Jadi" pada perusahaan-perusahaan yang dulunya merasa tidak begitu penting proses perekrutan karyawannya. namun belakangan mulai menyadari kesalahannya itu.
Perusahaan yang membutuhkan karyawan baru, pasti menginginkan pegawai yang bermutu. Oleh karena itu, perusahaan harus jeli dalam merekrut sumber daya manusia yang dibutuhkan perusahaan. Perusahaan harus selektif dalam memilih sumber daya manusia yang berkualitas, atau paling tidak potensial untuk dikembangkan skill-nya melalui berbagai pelatihan ataupun pendidikan. Perusahaan selain diharapkan menyiapkan sumber daya yang berkualitas dan handal, tetapijuga harus menempatkannya pada posisi yang tepat sesuai dengan keterampilan yang dimiliki. Konsep The right man on the right place sangat diutamakan dalam hal ini. Karena rekrutmen yang baik akan sia-sia tanpa diikuti alokasi yang tepat.
Namun, untuk melakukan semua hal tersebut, perusahaan harus mengeluarkan dana yang cukup besar. Pengeluaran-pengeluaran seperti: biaya rekrutmen, biaya pelatihan, biaya pendidikan, dan biaya-biaya yang berhubungan dengan sumber daya manusia lainnya, mau tidak mau harus dianggarkan perusahaan. Namun demikian, tentu saja perusahaan akan memberi nilai yang tinggi pada sumber daya manusia tersebut. Perusahaan akan melakukan hal ini dengan pertimbangan yang sangat matang, karena merupakan tujuan jangka panjang, yang pada akhirnya akan memberikan profit yang sangat berarti bagi perusahaan di tahun-tahun mendatang. Dalam artian, apa yang telah dikorbankan perusahaan sebanding dengan apa yang akan diterima kemudian.
Sayangnya, perlakuan akuntansi konvensional atas pengeluaran dana untuk sumber daya manusia dicatat sebagai expense/biaya, yang tentu saja akan dihapuskan pada periode sebelumnya. Jadi, tidak akan menggambarkan keadaan yang sebenarnya karena laba perusahaan akan dilaporkan terlalu rendah. Di sini seolah-olah perusahaan tidak berpikir jangka panjang. Konsep konvensional ini tidak memperhitungkan segala dana yang telah dikeluarkan perusahaan dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas. Padahal, tujuan akuntansi keuangan adalah menyediakan informasi yang relevan dengan keputusan para pemakai. Para invenstor harus diberikan seluruh informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan mereka. Seperti yang dikemukakan Financial Accounting Standards Board (FASB) (1985:16) bahwa:
Financial reporting should provides information that useful to present and potential investors and creditors, and other users in making rational investment, credit, and similar decision. The information should be comprehensible to those who have reasonable understanding of business and economic activities and are willing to study the information with reasonable diligence.
Konsep Human Resource Accounting (HRA) hadir untuk mengatasi kendala di atas. Flamholtz mendefinisikan HRA sebagai "..... measuring the investment made by organizations in people, the cost or-replacing those people, and the value people to the enterprise.
Sama halnya dengan definisi American Accounting Association's (AAA) Committee on Human Resource, yaitu : "the process of identifying and measuring data about human resource and communicating this information parties."
Dalam konsep ini, segala pengeluaran yang digunakan bagi sumber daya perusahaan dianggap sebagai investasi (aktiva). Dengan cara ini dianggap lebih efisien, karena ada perusahaan yang dilaporkan tidak serendah semula. Informasi mengenai sumber daya manusia dibutuhkan oleh pihak intem maupun pihak ekstern untuk pengambilan keputusan. Pihak intern berkepentingan terhadap informasi sumber daya manusia yang mungkin merugikan perusahaan. Pihak ekstern, terutama investor membutuhkan informasi sumber daya manusia untuk mengetahui efektivitas penggunaan sumber daya oleh perusahaan.
Begitu pcntingnya sumber daya manusia, membuat Paton, sebagaimana dikutip oleh cashin dan Polimeni (1991 : 827) mengemukakan bahwa “ln the business enterprise, a well organized and loyal personnel may be a more important asset than a stock merchandisc."
Tentu saja sumber daya manusia yang dimiliki harus yang terampil, sesuai dengan kebutuhan dan handal menghadapi segala hambatan perusahaan. Hal ini harus perusahaan sadari, mengingat mulai banyaknya pembajakan karyawan professional yang telah “Jadi" pada perusahaan-perusahaan yang dulunya merasa tidak begitu penting proses perekrutan karyawannya. namun belakangan mulai menyadari kesalahannya itu.
Perusahaan yang membutuhkan karyawan baru, pasti menginginkan pegawai yang bermutu. Oleh karena itu, perusahaan harus jeli dalam merekrut sumber daya manusia yang dibutuhkan perusahaan. Perusahaan harus selektif dalam memilih sumber daya manusia yang berkualitas, atau paling tidak potensial untuk dikembangkan skill-nya melalui berbagai pelatihan ataupun pendidikan. Perusahaan selain diharapkan menyiapkan sumber daya yang berkualitas dan handal, tetapijuga harus menempatkannya pada posisi yang tepat sesuai dengan keterampilan yang dimiliki. Konsep The right man on the right place sangat diutamakan dalam hal ini. Karena rekrutmen yang baik akan sia-sia tanpa diikuti alokasi yang tepat.
Namun, untuk melakukan semua hal tersebut, perusahaan harus mengeluarkan dana yang cukup besar. Pengeluaran-pengeluaran seperti: biaya rekrutmen, biaya pelatihan, biaya pendidikan, dan biaya-biaya yang berhubungan dengan sumber daya manusia lainnya, mau tidak mau harus dianggarkan perusahaan. Namun demikian, tentu saja perusahaan akan memberi nilai yang tinggi pada sumber daya manusia tersebut. Perusahaan akan melakukan hal ini dengan pertimbangan yang sangat matang, karena merupakan tujuan jangka panjang, yang pada akhirnya akan memberikan profit yang sangat berarti bagi perusahaan di tahun-tahun mendatang. Dalam artian, apa yang telah dikorbankan perusahaan sebanding dengan apa yang akan diterima kemudian.
Sayangnya, perlakuan akuntansi konvensional atas pengeluaran dana untuk sumber daya manusia dicatat sebagai expense/biaya, yang tentu saja akan dihapuskan pada periode sebelumnya. Jadi, tidak akan menggambarkan keadaan yang sebenarnya karena laba perusahaan akan dilaporkan terlalu rendah. Di sini seolah-olah perusahaan tidak berpikir jangka panjang. Konsep konvensional ini tidak memperhitungkan segala dana yang telah dikeluarkan perusahaan dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas. Padahal, tujuan akuntansi keuangan adalah menyediakan informasi yang relevan dengan keputusan para pemakai. Para invenstor harus diberikan seluruh informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan mereka. Seperti yang dikemukakan Financial Accounting Standards Board (FASB) (1985:16) bahwa:
Financial reporting should provides information that useful to present and potential investors and creditors, and other users in making rational investment, credit, and similar decision. The information should be comprehensible to those who have reasonable understanding of business and economic activities and are willing to study the information with reasonable diligence.
Konsep Human Resource Accounting (HRA) hadir untuk mengatasi kendala di atas. Flamholtz mendefinisikan HRA sebagai "..... measuring the investment made by organizations in people, the cost or-replacing those people, and the value people to the enterprise.
Sama halnya dengan definisi American Accounting Association's (AAA) Committee on Human Resource, yaitu : "the process of identifying and measuring data about human resource and communicating this information parties."
Dalam konsep ini, segala pengeluaran yang digunakan bagi sumber daya perusahaan dianggap sebagai investasi (aktiva). Dengan cara ini dianggap lebih efisien, karena ada perusahaan yang dilaporkan tidak serendah semula. Informasi mengenai sumber daya manusia dibutuhkan oleh pihak intem maupun pihak ekstern untuk pengambilan keputusan. Pihak intern berkepentingan terhadap informasi sumber daya manusia yang mungkin merugikan perusahaan. Pihak ekstern, terutama investor membutuhkan informasi sumber daya manusia untuk mengetahui efektivitas penggunaan sumber daya oleh perusahaan.
Konverter Rupiah






Tidak ada komentar:
Poskan Komentar