Kamis, September 8

Aktiva Lancar

Aktiva lancar yang dikemukakan oleh Leopold A. Bernstein dan John J. Wild (1997:409) ialah Current assets are cash and other assets reasonably expected to (1) realized in cash, or (2) Sold or consumed, during the normal operating cycle the company (or within one year if the operating cycle is less than a year).  Aktiva lancar adalah uang kas dan aktiva lainnya yang segera dapat diharapkan (1) menjadi segera uang kas, atau (2) dijual atau dipakai selama siklus operasi normal perusahaan.

Yang termasuk dalam aktiva lancar adalah:
1. Kas (Cash)
Uang tunai dan alat pembayaran lainnya yang dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan terdiri dari uang logam, uang kertas, check, wesel-wesel bank, dan lain-lain  yang oleh bank dapat diterima sebagai alat pemabayaran.

2. Investasi Jangka Pendek (Temporary investment)
Investasi jangka pendek adalah investasi yang sifatnya sementara dengan maksud untuk memanfaatkan uang kas yang untuk sementara belum dibutuhkan dalam operasi. Syarat utama agar dapat dimasukkan dalam investasi jangka pendek adalah bahwa investasi itu harus bersifat marketable ; artinya setiap saat perusahaan membutuhkan uang, investasi itu dapat segera dijual dengan harga yang pasti.  Yang termasuk dalam investasi jangka pendek adalah : (1) deposito di bank, (2) surat-surat berharga yang berwujud saham, obligasi dan surat hipotek, sertifikat bank dan lain-lain investasi yang mudah diperjualbelikan.  Investasi jangka pendek ini disajikan dalam neraca sebesar harga perolehannya atau harga pasar mana yang lebih rendah.

3. Wesel tagih (Notes receivable)
Wesel tagih adalah tagihan perusahaan kepada pihak lain  yang dinyatakan dalam wesel atau perjanjian yang diatur dalam undang-undang.  Karena wesel pembuatnnya diatur dengan undang-undang, maka wesel ini lebih mempunyai kekuatan hukum dan lebih terjamin pelunasannya dan dapat diperjualbelikan atau didiskontokan.

4. Piutang dagang (Account receivable)
Piutang dagang adalah tagihan kepada pihak lain (kepada kreditor atau langganan) sebagai akibat adanya penjualan barang dagangan secara kredit.

5. Penghasilan yang masih akan diterima (Accruals receivable)
Penghasilan yang sudah menjadi hak perusahaan karena perusahaan telah memberikan jasa-jasanya kepada pihak lain tetapi pembayarannya belum diterima sehingga merupakan tagihan.
 
6. Persediaan barang (Inventories)
Barang dagangan yang dibeli untuk dijual kembali, yang masih ada di tangan pada saat penyusunan neraca.  Bagi perusahaan industri yang mengolah bahan dasar menjadi barang  jadi, mempunyai tiga macam persediaan; yakni (1) persediaan bahan dasar (raw material inventory), (2) Persediaan barang dalam proses (goods in process inventory), dan (3) Persedian barang jadi (finished goods inventory).
 
7. Biaya yang dibayar dimuka (prepaid expenses)
Pengeluaran untuk memperoleh jasa dari pihak lain, tetapi pengeluaran tersebut belum menjadi biaya atau jasa dari pihak lain karena belum dinikmati oleh perusahaan pada periode yang sedang berjalan.  Sebagai contoh, misalnya persediaan supplies, biaya sewa yang dibayar dimuka, biaya bunga yang dibayar di muka, biaya advertensi yang dibayar di muka.
Bagikan Artikel Ini :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Posting Acak

Kumparan Berita

Loading...

Copyright  © 2013 Ilmu Ekonomi - All Rights Reserved | Powered By BLOGGER |

Kembali ke ATAS